Rabu, 15 November 2017

PULANG

PULANG

Jumat, 14-Nov-2003

Jam berdenting menunjukkan pukul 4 sore. Baru kali ini aku menatap antusias pintu rumah. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi. Aku menggenggam sebuah layang-layang sambil membayangkan betapa gembiranya Ia ketika mengetahui aku sudah cukup cerdas dan mandiri dalam membuatnya.

KREEK

“Ayaaah”

Mengetahui aku akan menerjangnya dengan pelukan dan kicauan yang cukup bawel. Ayah mencubit pipiku gemas dan menggendongku ke ruang tamu.

“Wah, anak ayah sudah pintar ya buat layang-layang. Sudah tidak merengek lagi dong minta dibeliin di warung?” goda Ayah sembari menahan tawa melihat hasil layang-layangku yang bergambar wajah Ayah ditambah dengan rona merah di pipi. Aku menyerocos panjang lebar mengenai teman-temanku yang mengajak pergi bersama ke lapangan sepulang sekolah untuk menerbangkan layang-layang. Dan tanpa aku mengatakannya dengan jelas, ayah segera meninggalkanku yang belum selesai bercerita untuk mengganti pakaiannya.

“Sini Ayah tunjukkan keahlian Ayah waktu kecil” ujarnya sambil menepuk dadanya dengan bangga. Tangannya terulur ke arahku dan dengan senang hati aku menggapainya dan menggenggamnya erat.

Sore itu, angin berhembus kencang menerbangkan layangan
Terbang tinggi—setinggi luapan rasa bahagia kami kala itu
Hanya ada aku, ayah, dan layangan yang menari-nari di langit biru

***
Selasa, 11-Mar-2025

           Sesaat aku membiarkan kenangan masa kecilku dengan Ayah menguasai pikiranku. Sakit. Aku mencengkram dadaku. Luka ini kembali menganga. Mimpi buruk ini tiba-tiba menghampiriku ketika aku sudah hampir melupakannya. Tangan kananku bergetarmeraih layangan bermotif biru putih yang tergeletak sembarang di lantai dan merengkuhnya erat. Aku mendongakmenatap bingkai foto yang tergantung di dekat meja.

“Harusnya aku tidak begini bukan? Andai saja Ayah berada disini. Ayah pasti takkan suka melihatku begini. Iya kan Yah? Ayah….” gumamku menatap nanar bingkai berlukiskan potret diriku yang ketakutan menaiki sepeda roda dua pertama kali dengan ayah yang tertawa lebar—puas menakutiku bahwa Ia akan melepas pegangannya pada sepeda.

Tawa Ayah
Ayah sangat bahagia kala itu
Andai aku bisa melihatnya kembali seperti itu …
           
***
Rabu, 09-Jun-2017

Aku membanting keras pintu kamarku sambil menggerutu pelan. Aku memijit keningku menyadari kesalahan yang aku lakukan beberapa waktu yang lalu. Bentakan Ayah yang memarahiku pulang larut malam dibalas dengan bentakan rasa kesalku yang tak sengaja ku lontarkan kepadanya. Ayah sering sakit belakangan ini dan harusnya aku tidak membuat kondisinya bertambah parah.

Guyuran hujan di luar ditambah dengan nasihat atau mungkin lebih pantas dikatakan omelan panjang tiada henti dari dosen pembimbing skripsi cukup membuatku pusing setengah mati. Dan sesampainya aku pulang, jangankan mengharapkan rasa khawatir ataupun perhatian. Nyatanya, malah disambar dengan bentakan Ayah hingga akhirnya Ibu turun tangan untuk memisahkan kami, karena Ayah tiba-tiba batuk-batuk keras dan segera Ibu papah ke dalam kamar.
           
           “Daniella ada wedang jahe nih!” panggil Ibumembuyarkan lamunanku. Kubuka pintu kamar dengan hati-hati dan melihat sekeliling mencari keberadaan Ayah dan dengan sigap duduk disebelah Ibu.. Aku menghela napas lega—akan canggung jika aku berada dalam satu ruangan dengan Ayah jika sehabis bertengkar seperti tadi.  

         “Ibu emang paling mengerti aku deh! Tapi wedang jahenya tumben agak beda ya rasanya, engga seperti yang Ibu beli biasa. Jahenya lebih terasa yang ini.” sahutku sambil menyesap kembali wedang jahe yang masih hangat.

        “Ayah kan biasanya beli diperempatan pinggir jalan. Nah, karena sudah larut malam sudah tutup. Terus Ayah juga sempat memutari kompleks, tapi katanya engga ada yang jualan. Jadinya tadi ayah berkreasi di dapur mengingat resep wedang jahe mendiang nenekmu. Ohya tadi

          Aku bergeming mendengar penjelasan Ibu mengenai Ayah yang rela keluar malam-malam demi mencarikanku wedang jahe—padahal Ia sendiri seharusnya beristirahat di rumah. Bahkan Ayah yang merelakan waktunya membuat secangkir wedang jahe berbekal ingatannya masa lalu.

            “…. Niella masih dengerin Ibu kan? Ohya, tadi Ayah mengomel karena kamu engga kunjung pulang. Ayah menghangatkan wedang jahe berulangkali loh karena tau kamu pasti pulang basah kuyup engga bawa payung. Eh kamunya malah pulang larut malam banget dan engga ada kabar… Ibu sama Ayah khawatirin kamu tau!”

            Hatiku mencelos mendengar penjelasan Ibu. Sebegitu mudahnya aku melontarkan emosi dan hanya memandang sisi Ayah yang sibuk dan tidak pernah memerhatikanku saat ini. Ditambah dengan akulah penyebab bertambah buruknya kondisi Ayah yang sering sakit belakangan ini.

            Maafkan aku Ayah…
***
Kamis, 14-Jun-2017

            “Kabarnya baik-baik saja, Niel sudah masuk jurusan Arsitektur seperti apa yang aku inginkan. Beberapa minggu lagi mungkin akan sidang sepertinya.”

“Ya kau benar, Niel-ku memang hebat masuk jurusan arsitektur yang umumnya didominasi oleh para lelaki!”

            Mendengar Ayah yang sedang berbicara di telepon, aku tak bisa menahan senyum mendengar nada bangga Ayah yang sedang membicarakan aku dengan seseorang entah siapa. Sambil menunggu Ayah selesai menelpon, aku bersandar dibalik tembok dan menatap bahagia kertas acc skripsiku yang akan ku tunjukkan pada Ayah. Sekaligus menebus rasa bersalahku yang sempat melawan dan membentak Ayah minggu lalu. Dan juga akhir-akhir ini aku merasa sangat jauh dengan Ayah karena kami berdua sama-sama sibuk dan tidak mau mengalah atau menyatakan maaf satu sama lain.

          “… Tunggu—anakku perempuan. Namanya Jo Daniella. Ya, aku memang biasanya memanggil Niel …”

          Aku terkikik mendengar Ayah yang bingung menjelaskan mengapa nama panggilanku seperti laki-laki. Sejujurnya aku juga heran, Ibu wajar memanggilku Niella—maksudku nama itu masih diartikan sebagai nama seorang perempuan. Tapi, sejak dari kecil Ayah memanggilku Niel dan mungkin karena aku sudah terbiasa jadi aku tidak pernah menanyakan perihal sepele seperti itu. Bahkan bagiku panggilan Niel terdengar keren.

        “… Memang Tuhan berkehendak lain. Aku sungguh mengharapkan anak laki-laki—bahkan saking takutnya aku tidak berani menanyakan ke dokter perihal USG istriku …”

           Aku bergeming mendengar pernyataan Ayah yang sungguh menusuk hati. Sebegitukah Ayah menginginkan aku terlahir sebagai laki-laki. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Apakah Ayah selama ini merasa sedih dan kecewa karena aku tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya??

       “... Kau ingat dulu ketika aku bercerita padamu sebelum Daniella lahir, aku berencana menamakannya Jo Daniel. Ya… makanya aku memanggilnya Niel sejak kecil setidaknya mewujudkan keinginanku menamainya Daniel. Tunggu—kau bertanya apakah aku kecewa Niel-ku lahir sebagai perempuan—"

          Tak sanggup mendengar jawaban Ayah lebih lanjut. Aku memilih untuk pergi dan mengabaikan apa yang baru saja aku dengar.

Ya, aku tidak ingin mendengar kenyataan yang Ayah sembunyikan
            Kenyataan bahwa mungkinmungkin Ayah tidak mengharapkan aku
           
***

Selasa, 27-Jun-2017

            “Aku pulaaannggg”

            Hening. Tidak ada yang menjawab. Kemana mereka? Sudah seminggu aku menginap dikosan teman demi mengejar kesiapan sidang. Bukankah seharusnya mereka menyambutku dengan meriah dan senang karena sebentar lagi aku akan wisuda.

            “Ibu … Ayah …”

            Aku menelusuri kamar demi kamar. Sore hari seperti ini biasanya mereka bercengkrama di teras depan. Dimana Ayah dan Ibu sekarang? Ah, mereka bahkan kalah start dengannya. Aku memeluk sekuntum bunga tulip berwarna putih yang diberikannya pagi ini untukku. Aku bahkan ingin pamer dan bercerita dengan Ibu yang sudah penasaran akan pria yang telah berhasil mencuri hati anaknya.

            Ditambah dengan sebulan belakangan ini hubunganku dengan Ayah bertambah renggang. Aku semakin menjauh setelah mengetahui pembicaraan Ayah ditelepon. Tapi, aku akan memperbaiki hubunganku dengan Ayah hari ini. Mungkin hanya salah paham. Ya, salah paham dan aku tidak ingin itu merusak hubungan erat antara aku dan ayah selama ini.

             Aku kembali menelusuri rumah. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh entah karena sudah semingguan tidak berada dirumah—atau memang seisi rumah terlihat terlalu rapi dan banyak barang-barang yang sepertinya menghilang. Tunggu—belakangan ini Ibu memang jarang menelponku. Hanya dua kali dalam seminggu ini. Hari pertama ketika dikosan teman dan terakhir hari ini sebelum aku sidang.

            Akan tetapi, perkataan ibu tadi pagi terdengar aneh…

            “Semoga sidangmu lancar Niella… Ibu sama Ayah selalu mendoakanmu dimanapun kami berada”

            “Ibu sama Ayah lagi dimana memangnya sekarang? Pokoknya Niella pulang, kalian sudah dirumah ya... Niella mau cerita sama Ibu banyak hehehe”

            UHUUUKK UHUUUK

            ‘Permisi Bu. Tolong segera isi administrasinya ya, atas nama Bapak—’

            “Nanti Ibu telepon lagi ya. Ibu lagi sibuk nih. Hati-hati pulang ke rumah. Ibu sama Ayah sayang kamu… Baik-baik ya…” suara Ibu bergetar seperti menahan tangis. Dan baru saja aku akan menanyakan apakah tadi suara batuk Ayah dan dimana mereka sekarang. Ibu memutuskan sambungan teleponnya.

            Aku berlari menuju kamar Ayah dan Ibu. Aku harus memastikan sesuatu. Dengan terburu-buru aku membuka lemari Ayah dan Ibu. Hanya ada beberapa baju yang tersisa. Aku menutup mulutku—tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Aku segera melongok ke bawah kasur Ayah dan Ibu, tempat dimana koper disimpan. Namun, nihil.

            Aku duduk tersipuh dilantai. Aku termenung—memikirkan segala macam kemungkinan yang terjadi ketika aku seminggu tidak berada di rumah. Dengan kasar, aku membuka semua laci dan mengeluarkan isi didalamnya. Hampir semuanya berisi dokumen entah apa isinya. Satu demi persatu ku baca dengan teliti. Hingga akhirnya tanganku gemetaran menemukan dokumen rekam medis dengan nama Ayah disampulnya. Perlahan, aku membuka lembar demi lembar dokumen tersebut.

            Atherosklerosis (Penyempitan Pembuluh Darah pada Jantung)

            Tangisku pecah. Apa yang terjadi? Semenjak kapan? Semenjak kapan Ayah menderita penyakit ini? Mengapa Ibu dan juga Ayah menyembunyikan rahasia ini dariku? Lalu mengapa mereka pergi diam-diam seperti ini?

            Dulu, setiap sore, aku selalu antusias menunggu pintu terbuka
            Hingga muncullah sesosok yang akan merengkuhku dan mengatakan bahwa …
            Akulah satu-satunya gadis kecilnya yang berharga

Namun, mulai hari ini hingga entah kapan berakhir
Untuk pertama kalinya—aku menunggu pintu terbuka dengan keputusasaan

***

Selasa, 11-Mar-2025

            “… Bangun... Ma Bangun… Ma…”
           
            Cahaya matahari menelisik masuk melalui jendela yang telah disibak oleh seseorang. Aku tersenyum menatap sesosok anak laki-laki, pipinya merona merah, matanya yang berbinar-binar dan sangat menggemaskan melihat selai cokelat yang menempel di pipi kirinya.

            “Mama abis ngiler ya? Kok basah sih pipinya? Mama kalah sama aku, aku aja kalo ngiler jarang-jarang” celotehnya sembari menghapus air mata di pipiku. Sontak aku pun tertawa dan segera mencubit gemas hidung Jagoan-ku ini.

            “Daniel… Makasih ya sudah membangunkan Mama dari mimpi yang panjang”

          “Mama kemarin tidur sambil meluk layangan Niel? Katanya Mama engga suka sama layangan, bahkan sempat mau membuang layanganku kemarin …” ucap Daniel pelan takut aku kembali marah dan membuang layangan tersebut.

            Aku menggeleng pelan dan mengelus rambutnya pelan.

          “Maaf ya, Mama kemarin lagi engga enak badan. Jadinya marah-marah engga jelas. Nanti kita nerbangin layangan bareng ya sama

            BRAAAK

            Pintu kamar terbuka dan sesosok lelaki tampan dengan apron bergambar kelinci putihsangat pas dibadannya. Ia tersenyum menampilkan lesung pipitnya yang sangat memesona.

            “Papaaa, kata Mama nanti kita main layangan bareng horeeee” teriak Daniel menerjang sesosok lelaki yang masih berdiri didepan pintu. Laki-laki itu menangkap Daniel dan tatapan kami bertemu dan Ia mengisyaratkan sesuatu sedangkan aku mengangkat alis mencoba menyelami apa yang Ia sampaikan.  

            “Pinggangku sakit mengangkatmu yang tertidur sembarangan kemarin. Ayo sarapan! Perlukah aku gendong juga seperti kemarin, Tuan Putri?” ujarnya sambil menawarkan lengan sebelahnya yang tidak menggendong Daniel.

            Aku tertawa renyah mendengar candaannya. Ah, aku sangat menyukai tidur sembarang tempat tanpa merasa cemas karena ada Ayah yang akan menggendongku ketika aku tertidur. Entah mengapa berada disampingnya membuatku semakin mengingat dan merindukan Ayah.

            Laki-laki ini mengulurkan tangannya kepadaku dan senang hati aku menggapainyamenggenggam erat tangan suamiku. Tangannya menuntunku menuju ruang makan. Dan tentunya aku yang sibuk membersihkan sisa-sisa selai cokelat yang ada di pipi Daniel tanpa menyadari dua sosok yang berada di depanku.

            “Jo Daniella …”

            Pandanganku mengabur. Napasku tercekatMimpi ini masih berlanjut? Aku masih bermimpi? Aku

            “Niella, kami pulang…”

            Ibu mendorong pelan kursi roda yang diduduki oleh Ayah. Menghampiri aku yang masih gemetaran dan memelukku. Bongkahan batu dalam hatiku seolah runtuh seketika merasakan hangatnya pelukan Ibu. Ucapan maaf berulangkali Ibu bisikan kepadaku. Maaf dan penuh rasa bersalah karena telah meninggalkanku. Aku melepaskan pelukan Ibu dan bergantian memeluk tubuh ringkih Ayah.
           
          Masih terasa hangat dan nyaman. Bertahun-tahun lamanya aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Merasa betapa terlindungi aku ketika berada di pelukan Ayah. Sangat nyamanhingga membuatku tidak ingin melepasnya.

            “Ayah pulang, Niel…”

            Sesederhana itulah yang aku harapkan
            Kau pulang dan kami kembali bersama
            Seperti sedia kala
            Terima kasih Ayah… Ibu…
            Aku sayang kalian


TAMAT